August 16, 2022

Directoresdecasting.info

Free Guest Post Blog

Vulkanolog Bahas Potensi Erupsi Gunung Anak Krakatau

1 min read

Directoresdecasting.information, JakartaSiklus erupsi Gunung Anak Krakatau berubah dari sekitar dua tahun sebelum 2018 menjadi empat tahun, kata ahli vulkanologi dari Institut Teknologi Bandung (ITB), Mirzam Abdurrachman.

Terletak di Selat Sunda, gunung berapi terakhir meletus pada 22 Desember 2018, merenggut 400 nyawa dan melukai ribuan orang. Statusnya baru-baru ini meningkat dari Waspada atau Awas (stage 2) ke Siaga atau Siaga (stage 3), per Minggu, 24 April 2022.

Mirzam menilai peningkatan kegempaan mengindikasikan pergerakan magma. Letusan Gunung Anak Krakatau merupakan fase rutin untuk mengeluarkan magma berlebih, kata Mirzam, Senin malam, 25 April 2022.

Ditegaskannya, ketika posisi magma sudah berada di dekat permukaan yang ditandai dengan pelepasan gasoline SO2 yang tinggi namun tidak keluar atau meletus, posisi dangkalnya akan sangat rentan terhadap faktor eksternal. Akibatnya, bisa memicu letusan mendadak seperti yang terjadi di Hawaii pada 2018.

Berdasarkan hasil kajian ITB, diketahui bahwa dapur magma di Gunung Anak Krakatau diisi oleh dua sumber yang berbeda; mencairnya lempeng akibat subduksi dan kedalaman lapisan mantel bumi.

“Sehingga Anak Krakatau saat ini dalam fase pertumbuhan membentuk kerucut yang lebih besar akibat akumulasi produk erupsi,” jelas Mirzam.

Jadi, ketika ditanya tentang potensi terulangnya erupsi dahsyat yang berujung pada tsunami di tahun 2018, Mirzam berpendapat hal itu mungkin saja terjadi, namun hal itu bukanlah sesuatu yang perlu dikhawatirkan saat ini. “Karena quantity saat ini masih kecil dan jauh dari ukuran tubuh Gunung Anak Krakatau tahun 2018,” ujarnya.

Membaca: BNPB Pantau Dampak Letusan Gunung Anak Krakatau Selama Periode Mudik

ANWAR SISWADI (KONTRIBUTOR)

See also  Hari Anak Nasional, Wagub DKI Riza Patria: Beri Anak Pelukan Terindah
Copyright © All rights reserved. | Newsphere by AF themes.