August 19, 2022

Directoresdecasting.info

Free Guest Post Blog

Evakuasi Ternak Selamatkan Manusia dari Dampak Bencana Vulkanik

3 min read

Directoresdecasting.data, Sleman – Pemerintah Indonesia mengintegrasikan evakuasi ternak sebagai elemen baru dan penting dalam upaya penanggulangan bencana. Evakuasi ternak erat kaitannya dengan upaya evakuasi manusia, mengingat ternak sebagai aset penghidupan yang berharga. Menyiapkan jalur evakuasi ternak khususnya dapat mengurangi korban jiwa manusia dan hewan serta kerugian ekonomi.

Untuk pertama kalinya, latihan evakuasi ternak menjadi bagian dari kegiatan Hari Siaga Bencana Nasional (Hari Kesiapsiagaan Bencana – HKB) yang diperingati setiap tanggal 26 April sejak tahun 2017.

“Kesiapsiagaan bencana Indonesia telah meningkat secara signifikan dalam menyelamatkan nyawa masyarakat. Namun dalam berbagai kejadian bencana, proses evakuasi manusia seringkali terhambat oleh masyarakat, terutama para petani yang enggan mengungsi jika harus meninggalkan ternaknya yang merupakan mata pencaharian yang berharga. Hal ini dapat meningkatkan risiko korban jiwa dan kerugian ekonomi, sehingga pemerintah perlu menyusun strategi khusus untuk menanganinya,” kata Letjen Suharyanto, Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB).Badan Nasional Penanggulangan Bencana – BNPB) pada kegiatan HKB 2022 yang dilaksanakan di empat kabupaten sekitar Gunung Merapi, yaitu Sleman (Daerah Istimewa Yogyakarta) dan Boyolali, Klaten dan Magelang (Jawa Tengah).

BNPB mencatat ada 2.800 ekor sapi mati selama letusan Gunung Merapi 2010, dengan 332 kematian manusia. Sekitar 12,4% dari whole kerugian ekonomi sebesar 4,23 triliun rupiah merupakan kerugian usaha kecil dan menengah, termasuk di sektor pertanian dan peternakan. Setidaknya ada 156 letusan gunung berapi di seluruh Indonesia dalam periode 2010-2020 atau rata-rata 15 letusan setahun.

Di Jakarta, Direktur Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan Kementerian Pertanian (Ditjen Dikti), Nasrullah mengatakan, Kementan mendukung upaya integrasi evakuasi ternak dalam penanggulangan bencana. Menurut Nasrullah Kementan menyadari bahwa Indonesia memiliki risiko tinggi terhadap bencana gunung berapi karena hal ini terkait dengan lebih dari 1,2 juta penduduk Indonesia yang tinggal di sekitar kawasan gunung berapi yang mencari nafkah dari pertanian dan peternakan, terutama keluarga petani skala kecil. Untuk itu, Nasrullah menegaskan, peternakan juga perlu mendapat perhatian dan penanganan yang baik jika terjadi bencana.

See also  Anies Baswedan Sebut Banyak Orang Asing Bantu Persiapan Components E Sirkuit Jakarta

Masyarakat sekitar Gunung Merapi berlatih menurunkan ternak dari kendaraan ke tempat penampungan umum (© FAO / Gayatri Kancana)

“Kementerian Pertanian bersama BNPB dan pemerintah daerah akan menyiapkan pedoman penanganan ternak pada saat bencana vulkanik, yang meliputi pengaturan evakuasi ternak dan rencana kontinjensi,” kata Nasrullah.

“Pedoman ini diharapkan dapat melengkapi pedoman evakuasi bagi manusia, sehingga masyarakat dapat memperoleh jaminan keselamatan saat terjadi bencana, baik bagi dirinya maupun ternaknya sebagai sumber mata pencaharian utama bagi keluarga di pedesaan,” Nasrullah ditambahkan.

”Tujuan dari pedoman ini adalah untuk mengurangi risiko dan kerugian akibat bencana gunung berapi. Pemerintah ingin masyarakat yang tinggal di daerah rawan bencana tetap aman dan sejahtera,” jelasnya.

Direktur Kesehatan Masyarakat Veteriner Syamsul Ma’arif menjelaskan, proses evakuasi ternak harus mengikuti aturan animal welfare agar ternak yang dievakuasi bisa sampai di shelter dengan selamat. Oleh karena itu, bimbingan bagi petugas atau petani sangat dibutuhkan saat melakukan evakuasi.

“Kami sedang menyiapkan SOP Evakuasi Ternak [Standard Operating Procedure] yang dapat dijadikan pedoman bagi petugas dan petani di lapangan agar proses evakuasi dapat dilakukan dengan baik,” kata Ma’arif.

Latihan evakuasi letusan gunung berapi untuk manusia dan ternak di dekat Gunung Merapi (© FAO / Gayatri Kancana)

Rajendra Aryal, Meals and Agriculture Group (FAO) dari Perwakilan PBB untuk Indonesia dan Timor Leste juga menyampaikan pesan serupa.

“FAO bekerja sama dengan BNPB dan Kementerian Pertanian untuk melindungi petani dari kerugian akibat bencana gunung berapi. Kami memberikan dukungan teknis yang diperlukan sesuai dengan Sendai Framework, kerangka kerja world untuk pengurangan risiko bencana, untuk melakukan studi dan mengembangkan pedoman penanganan ternak, termasuk evakuasi ternak, peningkatan kapasitas dan rencana respons yang mengarah pada latihan evakuasi hari ini, “kata Aryal dalam Jakarta.

See also  Pupuk Kaltim Goal Bangun Pabrik Papua Barat

“Sebagai ketua G20 dan tuan rumah International Platform for Catastrophe Threat Discount yang akan diadakan di Bali Mei ini, upaya penanggulangan bencana di Indonesia dapat menjadi contoh bagi dunia. Terletak di ring of fireside yang rawan bencana dengan populasinya yang besar, pengalaman baik dari Indonesia dapat menjadi praktik yang baik bagi seluruh dunia,” lanjut Aryal.

Sejak tahun 2006, FAO dengan dukungan dana dari United States Company for Worldwide Improvement (USAID) telah bekerja dengan berbagai kementerian dan lembaga untuk meningkatkan kapasitas Indonesia dalam mencegah dan merespon bencana, baik alam maupun non-alam, termasuk wabah penyakit, yang dapat mengganggu kesehatan masyarakat dan sistem pertanian pangan yang dapat menyebabkan kerugian ekonomi.

FAO

Copyright © All rights reserved. | Newsphere by AF themes.